KUDA LAUT OR SEA HORSE
Kuda laut adalah jenis ikan yang hidup di laut dari genus Hippocampus dan famili Syngnathidae. Hewan dengan ukuran yang bervariasi antara 16 mm (untuk spesies Hippocampus denise) sampai 35 cm ini dapat ditemukan di perairan tropis dan menengah di seluruh dunia. Kuda laut merupakan satu-satunya spesies yang jantannya dapat hamil.
Sirip dorsal pada kuda laut terletak pada bagian bawah sedangkan sirip pektoralnya terletak pada bagian kepala, di dekat insang. Beberapa spesies kuda laut berwarna transparan sebagian, sehingga tidak mudah terlihat.
Populasi kuda laut terancam karena penangkapan yang berlebihan. Kuda laut dimanfaatkan pada herbologi tradisional Tiongkok dan sebanyak 20 juta kuda laut telah ditangkap setiap tahunnya untuk keperluan ini. Impor ekspor kuda laut diatur dalam CITES sejak 15 Mei 2004.
Kuda Laut adalah ikan famili Syngnathidae dan semua spesiesnya termasuk dalam satu marga yaitu Hippocampus. Ikan ini berbentuk aneh, kepala menyerupai kuda dan ekor seperti ekor kera. Di dalam air posisi tubuh tegak dengan kepala di atas dan ekor di bawah.
Kelompok hewan ini dapat dijumpai hidup di berbagai habitat seperti padang lamun, terumbu karang, mangrove dan estuaria, baik di perairan tropis maupun ugahari (temperate). Umumnya hewan ini berada di perairan dengan kedalaman antara 1-15 meter. Kuda Laut merupakan hewan unik karena yang jantan "melahirkan" anaknya. Kuda Laut betina menaruh telur-telurnya di dalam kantong yang ada di perut jantan dan di situ telur-telur tersebut dibuahi. Lama sang jantan "mengandung" berkisar antara 10 hari sampai enam minggu, tergantung pada spesies dan suhu perairan. Sekali kelahiran dapat memproduksi 100 200 anak Kuda Laut.
Pengetahuan mengenai populasi alam dan biologi Kuda Laut tidak banyak diketahui oleh para ahli. Langkanya informasi tersebut menyebabkan sulitnya menduga dampak eksploitasi terhadap populasi Kuda Laut. Meskipun demikian, para nelayan dan pedagang sepakat bahwa dalam lima tahun terakhir ini populasi Kuda Laut di Asia Tenggara menurun 15-50%.Manusia merupakan "predator" yang utama. Para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 1995 paling sedikit 20 juta ekor Kuda Laut kering diperdagangkan dan beratus ratus ribu lagi diekspor sebagai ikan hias. Kuda Laut tidak hanya dimanfaatkan sebagai ikan hias, tetapi juga sebagai bahan obat tradisional Cina untuk mengobati berbagai penyakit seperti asma, tulang patah, kelainan ginjal dan impoten. Hewan ini juga dianggap sebagai bahan perangsang libido seksual.
Lebih kurang 45 negara terlibat dalam perdagangan hewan ini dengan Cina, Hongkong dan Taiwan merupakan negara pengimpor terbesar. Pada tahun 1992 Cina saja diperkirakan mengkonsumsi 20 ton Kuda Laut kering sedangkan Taiwan pada tahun 1994 mengimpor sekitar tiga juta ekor hewan ini. Menurut data yang ada negara negara pengekspor terbesar adalah India (1,3 juta ekor/tahun), Filipina, Thailand dan Vietnam. Data ekspor ikan ini dari Indonesia sulit didapat, tetapi diperkirakan juga cukup besar. Secara individual, perikanan Kuda Laut adalah kecil tetapi secara kolektif sangat besar dan luas serta berpotensi merugikan populasi alami. Kegiatan perikanan ini merupakan mata pencaharian penting nelayan tradisional di berbagai negara berkembang. Sebagian besar perdagangan Kuda Laut dilakukan secara legal dan tidak ada pengaturannya, tetapi makin banyak negara mulai memantau dan mengendalikannya. Sebagian besar spesies Kuda Laut tercantum sebagai hewan "Vulnerable" pada IUCN Red List of Threatened Animals tahun 1996, tetapi tidak mempunyai implikasi hukum terhadap pengaturan perdagangannya.
Sebagai akibat dari permintaan dunia terhadap Kuda Laut yang terus meningkat serta ketidakpastian dari dampak eksploitasi terhadap populasi alami, maka pembudidayaan Kuda Laut mendapat perhatian yang serius banyak ahli. Pembudidayaan dianggap tidak hanya dapat mengurangi tekanan terhadap populasi alam, tetapi juga dapat menciptakan mata pencaharian alternatif bagi banyak nelayan. Meskipun demikian, berbagai keberhasilan pembenihan Kuda Laut masih dalam skala laboratorium. Masih banyak masalah yang harus dipecahkan antara lain bagaimana menyediakan pakan hidup berupa plankton hewan, serta ke-rentanannya terhadap berbagai penyakit. Selain itu ada kecen-derungan pasar lebih memilih Kuda Laut yang ditangkap dari alam.
Sementara para peneliti masih harus menempuh jalan panjang untuk dapat membudidayakan Kuda Laut secara masal. Studi-studi untuk memahami aspek-aspek biologi hewan ini terus diupayakan untuk mendukung usaha konservasi populasi ikan ini secara luas. Pada tahun 1996 para ahli telah meluncurkan program yang disebut Project Seahorse guna menanggulangi penurunan populasi Kuda Laut akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Proyek merupakan program terpadu untuk konservasi dan usaha-usaha pengelolaan yang ditujukan untuk menjamin keberadaan populasi Kuda Laut di alam dan keutuhan habitatnya, serta masih memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat untuk memanfaatkannya. Project Seahorse dipimpin oleh Dr. Amanda Vincent dari Mc Gill University, Montreal, Canada dan Dr. Heather Hall dari Zoological Society of London, Inggris. Anggota tim proyek ini berada di beberapa negara seperti Canada, Inggris, Filipina dan Hongkong serta berafiliasi dengan Great Barrier Reef Aquarium Australia. Project Seahorse melaksanakan beberapa aktivitas seperti
• Mempelajari biologi Kuda Laut baik di habitat alam maupun di laboratorium;
• Memantau perikanan dan perdagangan Kuda Laut di seluruh dunia;
• Mengkoordinasikan pemeliharaan Kuda Laut di akuarium di seluruh dunia;
• Melaksanakan konservasi berbasis masyarakat di Filipina termasuk penetapan daerah perlindungan (sanctuary), program pendidikan dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi nelayan penangkap Kuda Laut;
• Menyelenggarakan lokakarya baik nasional maupun internasional mengenai konservasi dan pengelolaan Kuda Laut
Sirip dorsal pada kuda laut terletak pada bagian bawah sedangkan sirip pektoralnya terletak pada bagian kepala, di dekat insang. Beberapa spesies kuda laut berwarna transparan sebagian, sehingga tidak mudah terlihat.
Populasi kuda laut terancam karena penangkapan yang berlebihan. Kuda laut dimanfaatkan pada herbologi tradisional Tiongkok dan sebanyak 20 juta kuda laut telah ditangkap setiap tahunnya untuk keperluan ini. Impor ekspor kuda laut diatur dalam CITES sejak 15 Mei 2004.
Kuda Laut adalah ikan famili Syngnathidae dan semua spesiesnya termasuk dalam satu marga yaitu Hippocampus. Ikan ini berbentuk aneh, kepala menyerupai kuda dan ekor seperti ekor kera. Di dalam air posisi tubuh tegak dengan kepala di atas dan ekor di bawah.
Kelompok hewan ini dapat dijumpai hidup di berbagai habitat seperti padang lamun, terumbu karang, mangrove dan estuaria, baik di perairan tropis maupun ugahari (temperate). Umumnya hewan ini berada di perairan dengan kedalaman antara 1-15 meter. Kuda Laut merupakan hewan unik karena yang jantan "melahirkan" anaknya. Kuda Laut betina menaruh telur-telurnya di dalam kantong yang ada di perut jantan dan di situ telur-telur tersebut dibuahi. Lama sang jantan "mengandung" berkisar antara 10 hari sampai enam minggu, tergantung pada spesies dan suhu perairan. Sekali kelahiran dapat memproduksi 100 200 anak Kuda Laut.
Pengetahuan mengenai populasi alam dan biologi Kuda Laut tidak banyak diketahui oleh para ahli. Langkanya informasi tersebut menyebabkan sulitnya menduga dampak eksploitasi terhadap populasi Kuda Laut. Meskipun demikian, para nelayan dan pedagang sepakat bahwa dalam lima tahun terakhir ini populasi Kuda Laut di Asia Tenggara menurun 15-50%.Manusia merupakan "predator" yang utama. Para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 1995 paling sedikit 20 juta ekor Kuda Laut kering diperdagangkan dan beratus ratus ribu lagi diekspor sebagai ikan hias. Kuda Laut tidak hanya dimanfaatkan sebagai ikan hias, tetapi juga sebagai bahan obat tradisional Cina untuk mengobati berbagai penyakit seperti asma, tulang patah, kelainan ginjal dan impoten. Hewan ini juga dianggap sebagai bahan perangsang libido seksual.
Lebih kurang 45 negara terlibat dalam perdagangan hewan ini dengan Cina, Hongkong dan Taiwan merupakan negara pengimpor terbesar. Pada tahun 1992 Cina saja diperkirakan mengkonsumsi 20 ton Kuda Laut kering sedangkan Taiwan pada tahun 1994 mengimpor sekitar tiga juta ekor hewan ini. Menurut data yang ada negara negara pengekspor terbesar adalah India (1,3 juta ekor/tahun), Filipina, Thailand dan Vietnam. Data ekspor ikan ini dari Indonesia sulit didapat, tetapi diperkirakan juga cukup besar. Secara individual, perikanan Kuda Laut adalah kecil tetapi secara kolektif sangat besar dan luas serta berpotensi merugikan populasi alami. Kegiatan perikanan ini merupakan mata pencaharian penting nelayan tradisional di berbagai negara berkembang. Sebagian besar perdagangan Kuda Laut dilakukan secara legal dan tidak ada pengaturannya, tetapi makin banyak negara mulai memantau dan mengendalikannya. Sebagian besar spesies Kuda Laut tercantum sebagai hewan "Vulnerable" pada IUCN Red List of Threatened Animals tahun 1996, tetapi tidak mempunyai implikasi hukum terhadap pengaturan perdagangannya.
Sebagai akibat dari permintaan dunia terhadap Kuda Laut yang terus meningkat serta ketidakpastian dari dampak eksploitasi terhadap populasi alami, maka pembudidayaan Kuda Laut mendapat perhatian yang serius banyak ahli. Pembudidayaan dianggap tidak hanya dapat mengurangi tekanan terhadap populasi alam, tetapi juga dapat menciptakan mata pencaharian alternatif bagi banyak nelayan. Meskipun demikian, berbagai keberhasilan pembenihan Kuda Laut masih dalam skala laboratorium. Masih banyak masalah yang harus dipecahkan antara lain bagaimana menyediakan pakan hidup berupa plankton hewan, serta ke-rentanannya terhadap berbagai penyakit. Selain itu ada kecen-derungan pasar lebih memilih Kuda Laut yang ditangkap dari alam.
Sementara para peneliti masih harus menempuh jalan panjang untuk dapat membudidayakan Kuda Laut secara masal. Studi-studi untuk memahami aspek-aspek biologi hewan ini terus diupayakan untuk mendukung usaha konservasi populasi ikan ini secara luas. Pada tahun 1996 para ahli telah meluncurkan program yang disebut Project Seahorse guna menanggulangi penurunan populasi Kuda Laut akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Proyek merupakan program terpadu untuk konservasi dan usaha-usaha pengelolaan yang ditujukan untuk menjamin keberadaan populasi Kuda Laut di alam dan keutuhan habitatnya, serta masih memperhatikan kebutuhan dan aspirasi masyarakat untuk memanfaatkannya. Project Seahorse dipimpin oleh Dr. Amanda Vincent dari Mc Gill University, Montreal, Canada dan Dr. Heather Hall dari Zoological Society of London, Inggris. Anggota tim proyek ini berada di beberapa negara seperti Canada, Inggris, Filipina dan Hongkong serta berafiliasi dengan Great Barrier Reef Aquarium Australia. Project Seahorse melaksanakan beberapa aktivitas seperti
• Mempelajari biologi Kuda Laut baik di habitat alam maupun di laboratorium;
• Memantau perikanan dan perdagangan Kuda Laut di seluruh dunia;
• Mengkoordinasikan pemeliharaan Kuda Laut di akuarium di seluruh dunia;
• Melaksanakan konservasi berbasis masyarakat di Filipina termasuk penetapan daerah perlindungan (sanctuary), program pendidikan dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi nelayan penangkap Kuda Laut;
• Menyelenggarakan lokakarya baik nasional maupun internasional mengenai konservasi dan pengelolaan Kuda Laut