---

Satu hal yang tidak pernah dapat aku pahami. Apa yang salah dengan ku hingga kamu menolaknya?
Maaf sepertinya tidak pernah cukup untuk mu, meski itu sudah ratusan juta kali aku lontarkan. Hei kamu, coba baca ini dan bermimpilah menjadi diriku.

Aku akan membawa mu kembali ke masa lalu. Masa dimana hingga sekarang aku sendiri bingung kenapa tak bisa aku lupakan. Hingga tiap detail kelokan aku masih mengingatnya. Aku pertegas, dengan sangat jelas. Tidakkah Kau Paham?

Dua bulan dengan sebuah status "berpacaran" memang selalu membuat tidurku diawali dengan senyum yang merekah. Setiap pesan yang kamu kirim selalu aku simpan rapat tanpa celah. Tiap hilangmu, tak lelah aku cari meski itu menyakitiku.
"Kak, lagi main bola po? Lama amat."
Rengekan yang tak pernah lelah aku ucapkan. Sepertinya segalanya berjalan baik saat aku dan kamu duduk bersandingan. Menggenggam erat satu sama lain. Dimana hanya ada bahu yang siap untukku bersandar. Dimana hanya ada tatapan misterius dari balik kaca silau itu.
Dan hari itu, aku mulai melihat tatapan lain dari balik kaca itu. Aku percaya hari itu bukanlah akhir dari segalanya.

Dan waktu membawa kita untuk terus bersama. Satu tahun. Entah kebosanan apa yang sedang menderamu. Aku sendiri masih tidak mengerti. Kalau aku mengatakannya sekali lagi saat itu, aku akan mengulanginya disini
"Aku pengen kamu fokus belajar. Biar Bapak bangga liat kamu dari sana. Biar Ibu juga tenang liat kamu berhasil meski keadaannya gini. Biar Inas dan Andit juga punya panutan yang baik dan bisa buat mereka bangga. Aku bukan pergi kok, aku cuma pengen kamu fokus Kev. Nanti ada waktunya lagi............."
Dan angin membawa mu pergi tanpa menyisakan satu kehangatan pun.