Rela.

Entah cuaca apa yang sedang menyelimuti dunia sekarang, Ibuku tiba-tiba berbicara dengan nada sendu di ruang tamu.
"Ina ki nek kesel po nopo ngono ra tau omong, bedo karo Inung. Nek Ina ki opo-opo ki ditulis, trus meneng dhewe."
Itu kalimat ulang yang disampaikan Ibuku petang tadi. Katanya tadi ada Mas dateng, maksudku suami mbakku. Aku sungguh tidak tau apa yang dibicarakan. Mata Ibuku sudah merah ketika aku keluar kamar mandi. Kami tidak suka bertanya kenapa, lagi pula aku harus bergegas, jadi aku tidak tau yang terjadi. Dan malam ini, kami tengah bertukar sambat.

Mau ku beri tahu sesuatu?
Kecewa itu sudah terlalu biasa buatku, sejujurnya. Aku tidak perlu menceritakan apa saja kekecewaanku?

Seperti katamu, ikhlaskan.
Tapi ikhlas itu tidak semudah itu lur. Merelakan sebuah masalah untuk "yaudah lah, namanya hidup" bukan untuk orang drama sepertiku. Bukan berarti masalah itu tidak selesai. Otakku sudah memastikan semua masalah itu selesai dengan sendirinya bersama waktu. Akan tetapi, hatiku selalu memilih tidak. Hahahaha lucuu?

Aku bilang itu sakit. Entah racun dari mana, aku mulai sakit karna pikirku yang tidak wajar. Kau tau bisa sepeduli itu dengan orang lain? Tapi orang lain tidak. Tapi tak apa, itu Isna.

Orang-orang mulai mengajariku untuk diam saja dengan apapun yang terjadi. Coba hilang ketika kepedulianmu hanya berbalas sesal. Bersembunyi dibalik alasan kacau. Aku hanya mencoba melindungi hatiku agar tidak lagi terluka.

Lelah kau tau. Merindukan hal yang tak bisa kau gapai.